Manfaat Structural Health Monitoring System (SHMS) pada Terowongan(Tunnel)
05 January 2017 11:27

Pada dasarnya terowongan merupakan sebah bangunan yang memerlukan perawatan secara teratur supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sebelum kita membahas tentang Structural Helath Monitoring System (SHMS) pada terowongan,kita perlu mengetahui apa itu terowongan?
Terowongan adalah sebuah tembusan di bawah permukaan tanah atau gunung. Terowongan umumnya tertutup di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka pada lingkungan luar. Beberapa ahli teknik sipil mendefinisikan terowongan sebagai sebuah tembusan di bawah permukaan yang memiliki panjang minimal 0,1 mil, dan yang lebih pendek dari itu lebih pantas disebut underpass.
Di Indonesia,terdapat 10 Terowongan terpanjang diantaranya:
1.Terowongan Wilhelmina/Terowongan Sumber
2.Terowongan Sasaksaat
3.Terowongan Sawahlunto
4.Terowongan Eka Bakti Karya
5.Terowongan Mrawan
6.Terowongan Lampegan
7.Terowongan Kupitan
8.Terowongan Ijo
9. Terowongan Tebing Tinggi
10.Terowongan Gunung Gajah
Ternyata di Indonesia banyak sekali terowongan panjang,namun apakah terowongan-terowongan tersebut sudah dipasangi Structural Health Monitoring system?
Structural Health Monitoring System yaitu, Proses dimana aktivitas untuk mendeteksi kesehatan, kelayakan, dan kerusakan pada struktur geografi atau bangunan atau bisa disebut sebagai sistem pemantauan kesehatan struktural .
Proses Structural Health Monitoring System (SHMS) dengan sistem pengamantan pada kasus yang ditentukan menggunakan alat pengukuran, respon dinamis dari sebuah alat array sensor, fitur tersebut berguna untuk menentukan keadaan kesehatan sistem saat ini.
Untuk jangka waktu yang lama, Structural Health Monitoring System (SHMS) dengan output dari proses tersebut berjalan secara berkala dan memperperbaharui informasi mengenai kemampuan yang diuji untuk melakukan fungsi dan degradasi yang dihasilkan dari lingkungan operasional. Setelah kejadian bencana alam seperti longsor, gempa bumi atau ledakan dengan getaran yang mencurigakan, Structural Health Monitoring System (SHMS) digunakan untuk memonitoring kondisi dengan cepat dan bertujuan untuk memberikan informasi keadaan secara real time, dan informasi yang dapat dipercaya mengenai integritas struktur keadaan tersebut.
Lalu,Mengapa perlu Structural Health Monitoring system pada Terowongan ?
Di hampir setiap daerah di Indonesia terdapat terowongan,yang setiap harinya dilalu oleh kendaraan maupun pejalan kaki.Untuk supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan kita perlu Structural Health Monitoring System.Dengan adanya Structural Health Monitoring System (SHMS) untuk Terowongan, kita dapat melihat atau memonitoring keadaan, kesehatan, kelayakan dan kerusakan pada terowongan dengan memantau konstruksi terowongan dengan menggunakan array sensor yang berguna untuk memantau langsung secara real time keadaan terowongan.
Seperti kita ketahui, kondisi terowngan tidak selamanya dalam keadaan layak atau aman. Untuk itu, kita sangat perlu memantau dengan Structured Health Monitoring System (SHMS) untuk Terowongan secara berkala demi kelayakan dan keamanan pada terowongan.
Another Blog
-
Penyebab Longsor di Ponorogo
Sumber Gambar : Detik.com Indonesia merupakan negara dengan curah hujan yang cukup tinggi. Bahkan, pada… -
Longsor Terjadi di 4 Titik Jalur Arah Puncak
Hujan deras dan angin kencang yang mengguyur sejak senin dini hari menyebabkan terjadinya tanah longsor… -
Peran Online Monitoring Pada Industri Otomotif
Dari tahun ke tahun, tampaknya dunia otomotif mengalami perkembangan yang baik. Walaupun Indonesia terkena… -
Seperti Ini Kondisi Jalan Retak di Kampung Berlan,…
Ditemukan retakan jalan kurang lebih sepanjang 50 meter di Jalan Kesatrian X, RT 012/RW 003, Kebon Manggis,…

